
Minggu, 05 Juli 2026
Banyak orang mengira masalah keuangan hanya dialami oleh mereka yang memiliki penghasilan kecil. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit anak muda dengan gaji yang tergolong tinggi tetap merasa kesulitan menyisihkan uang di akhir bulan. Gaji datang, tagihan dibayar, belanja dilakukan, lalu saldo rekening kembali menipis sebelum tanggal gajian berikutnya.
Fenomena ini cukup banyak terjadi di kalangan Generasi Z. Akses ke layanan keuangan digital yang semakin mudah, tren media sosial, hingga gaya hidup yang terus berubah membuat pengelolaan keuangan menjadi tantangan tersendiri. Tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan yang terlihat sepele tetapi justru menjadi penyebab kondisi finansial sulit berkembang.
Kalau terus dibiarkan, kebiasaan tersebut bukan hanya menghambat proses menabung, tetapi juga membuat target keuangan seperti membeli rumah, memiliki dana darurat, hingga mencapai kebebasan finansial menjadi semakin sulit diwujudkan.
Lalu, kebiasaan apa saja yang perlu dihindari?
Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater memang menawarkan kemudahan. Hanya dengan beberapa klik, barang impian langsung bisa dibawa pulang tanpa harus membayar penuh di awal.
Masalahnya, kemudahan tersebut sering membuat seseorang lupa bahwa cicilan tetap merupakan utang yang harus dilunasi.
Banyak orang akhirnya memiliki beberapa cicilan sekaligus, mulai dari belanja online, gadget, tiket liburan, hingga kebutuhan sehari-hari. Nominalnya memang terlihat kecil jika dihitung per bulan, tetapi ketika dijumlahkan, total kewajiban yang harus dibayar bisa sangat besar.
Sebelum menggunakan PayLater, biasakan bertanya kepada diri sendiri, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat. Jika memang belum mampu membeli secara tunai, tidak ada salahnya menunda hingga kondisi keuangan lebih siap.
Media sosial membuat seseorang bisa melihat kehidupan orang lain setiap hari. Ada yang baru membeli ponsel terbaru, liburan ke luar negeri, nongkrong di kafe viral, hingga memakai barang-barang bermerek.
Tanpa disadari, hal tersebut dapat memunculkan rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO).
Akibatnya, banyak orang ikut membeli sesuatu hanya karena sedang tren, bukan karena benar-benar membutuhkan. Gaya hidup perlahan meningkat seiring bertambahnya penghasilan, tetapi tabungan justru tidak ikut bertambah.
Perlu diingat bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua yang tampak mewah berarti kondisi finansialnya benar-benar sehat.
Daripada mengejar validasi, lebih baik fokus pada tujuan keuangan pribadi yang memberikan manfaat jangka panjang.
Semakin banyak anak muda mulai mengenal investasi. Ini merupakan perkembangan yang positif. Namun, masih banyak yang salah memahami konsep investasi.
Tidak sedikit yang menganggap investasi sebagai cara mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Akibatnya, mereka mudah tergiur aset berisiko tinggi tanpa memahami cara kerjanya.
Padahal investasi berbeda dengan perjudian maupun spekulasi.
Sebelum mulai berinvestasi, pahami terlebih dahulu dasar-dasar seperti profil risiko, diversifikasi aset, hingga tujuan investasi. Jangan hanya mengikuti tren atau rekomendasi influencer tanpa melakukan riset sendiri.
Investasi yang baik adalah investasi yang dilakukan secara konsisten untuk jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan instan.
Konten edukasi keuangan kini sangat mudah ditemukan di berbagai platform digital. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya.
Ada kreator yang memang memiliki latar belakang keuangan, tetapi ada juga yang hanya mengejar jumlah penonton dengan memberikan janji keuntungan besar dalam waktu singkat.
Sebelum mengikuti suatu saran keuangan, pastikan sumbernya memiliki kredibilitas yang jelas. Cari referensi tambahan dari lembaga resmi seperti OJK maupun Bank Indonesia, atau pelajari langsung dari buku dan sumber terpercaya.
Jangan mudah percaya pada ajakan investasi dengan iming-iming keuntungan fantastis tanpa risiko karena pada umumnya penawaran seperti itu patut diwaspadai.
Banyak anak muda mulai rajin berinvestasi, tetapi lupa membangun dana darurat.
Padahal dana darurat merupakan pondasi utama dalam pengelolaan keuangan.
Saat terjadi kondisi tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya, dana darurat menjadi penyelamat agar tidak perlu berutang.
Idealnya, dana darurat minimal sebesar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan.
Mulailah menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin ke rekening khusus yang terpisah dari rekening utama. Jangan gunakan dana tersebut untuk belanja atau kebutuhan yang sebenarnya masih bisa ditunda.
Pernah merasa suasana hati menjadi lebih baik setelah checkout barang di marketplace?
Kondisi ini dikenal sebagai doom spending, yaitu kebiasaan berbelanja sebagai pelampiasan stres, rasa bosan, atau tekanan emosional.
Awalnya memang terasa menyenangkan, tetapi setelah barang datang, rasa puas biasanya hanya bertahan sebentar. Sebaliknya, saldo rekening berkurang dan tagihan justru bertambah.
Jika mulai menyadari kebiasaan ini, cobalah mencari cara lain untuk mengelola stres, seperti berolahraga, membaca buku, berjalan santai, atau melakukan hobi yang tidak membutuhkan banyak biaya.
Mengelola emosi dengan baik sering kali sama pentingnya dengan mengelola keuangan.
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah merasa sudah tahu ke mana uang digunakan, padahal tidak pernah benar-benar mencatatnya.
Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan setiap hari perlahan menghabiskan sebagian besar penghasilan tanpa disadari.
Mulailah membuat anggaran sederhana setiap bulan.
Salah satu metode yang cukup mudah diterapkan adalah aturan 50:30:20, yaitu:
Tidak harus menggunakan aplikasi khusus. Catatan sederhana di ponsel atau spreadsheet pun sudah cukup membantu melihat ke mana uang mengalir setiap bulan.
Mengelola keuangan bukan soal seberapa besar penghasilan yang dimiliki, melainkan bagaimana cara menggunakannya dengan bijak. Penghasilan yang tinggi tetap bisa habis jika tidak diimbangi dengan kebiasaan finansial yang sehat.
Mengurangi penggunaan PayLater, menghindari FOMO, membangun dana darurat, berinvestasi dengan benar, hingga rutin membuat anggaran merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi kondisi keuangan di masa depan.
Semakin cepat kebiasaan baik ini diterapkan, semakin besar pula peluang untuk mencapai tujuan finansial, baik membeli rumah, mempersiapkan dana pensiun, maupun meraih financial freedom.
Ingat, kebebasan finansial tidak dibangun dalam semalam. Semua berawal dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Minggu, 05 Juli 2026 | 3 Views
Minggu, 21 Juni 2026 | 28 Views
Minggu, 14 Juni 2026 | 37 Views
Minggu, 07 Juni 2026 | 47 Views
Sabtu, 06 Juni 2026 | 58 Views