Promo Terbatas: Potong Rambut Tanpa Antri! Daftar Sekarang dan Nikmati Layanan Prioritas.

Gen Z Disebut Jadi Generasi Paling Kesepian di Dunia Kerja, Kenapa Bisa Terjadi?

Minggu, 02 Agustus 2026

Gen Z Disebut Jadi Generasi Paling Kesepian di Dunia Kerja, Kenapa Bisa Terjadi?

Masuk ke dunia kerja seharusnya menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan anak muda. Setelah bertahun-tahun belajar di sekolah atau perguruan tinggi, akhirnya seseorang mulai membangun karier, mendapatkan penghasilan sendiri, dan bertemu dengan lingkungan baru.

Namun, bagi sebagian Gen Z, dunia kerja ternyata tidak selalu menjadi tempat untuk membangun koneksi sosial.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kerja yang semakin fleksibel, muncul fenomena menarik yang dialami banyak pekerja muda. Gen Z justru disebut sebagai salah satu generasi yang paling merasakan kesepian di tempat kerja.

Padahal, secara teori, bekerja di sebuah perusahaan berarti bertemu dengan banyak orang setiap hari. Ada rekan satu tim, atasan, klien, hingga berbagai komunitas profesional. Tetapi, banyaknya orang di sekitar ternyata tidak selalu membuat seseorang merasa memiliki hubungan yang dekat.

Sebuah laporan yang dikutip dari survei platform teknologi pangan ezCater menunjukkan bahwa 38 persen pekerja Gen Z mengaku merasa kesepian saat bekerja. Angka tersebut disebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Fenomena ini tentu menarik untuk diperhatikan. Bagaimana bisa generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial justru merasa kesepian ketika memasuki dunia kerja?

Bekerja di Tengah Banyak Orang, tetapi Tetap Merasa Sendiri

Kesepian di dunia kerja sebenarnya bukan hanya tentang tidak memiliki teman. Seseorang bisa saja bekerja di kantor yang ramai, mengikuti rapat setiap hari, dan berkomunikasi dengan banyak rekan kerja, tetapi tetap merasa tidak memiliki hubungan yang benar-benar dekat.

Bagi sebagian Gen Z, komunikasi di tempat kerja mungkin hanya terjadi ketika ada urusan pekerjaan.

"Sudah kirim laporan?"

"Meeting jam berapa?"

"Deadline-nya kapan?"

"File-nya sudah selesai?"

Komunikasi seperti ini memang efektif untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun, jika hampir seluruh interaksi hanya berkaitan dengan tugas dan target, hubungan antarpegawai bisa terasa sangat formal.

Pada akhirnya, seseorang mungkin mengenal banyak orang di kantor, tetapi tidak memiliki teman yang benar-benar bisa diajak berbicara mengenai kehidupan di luar pekerjaan.

Inilah salah satu alasan mengapa kesepian di dunia kerja tidak selalu terlihat dari luar.

Gen Z Memasuki Dunia Kerja di Tengah Perubahan Besar

Salah satu faktor yang ikut memengaruhi pengalaman Gen Z di dunia kerja adalah kondisi ketika generasi ini mulai memasuki lingkungan profesional.

Sebagian Gen Z memulai perjalanan karier mereka ketika pandemi COVID-19 mengubah sistem kerja secara drastis. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara langsung berpindah ke ruang digital.

Pertemuan dilakukan melalui video conference. Komunikasi berpindah ke aplikasi pesan instan. Proses orientasi karyawan baru juga banyak dilakukan secara daring.

Bagi pekerja yang baru pertama kali masuk ke dunia kerja, kondisi tersebut tentu memberikan pengalaman yang berbeda.

Biasanya, seorang karyawan baru dapat belajar dari rekan kerja secara langsung. Mereka bisa bertanya ketika mengalami kesulitan, makan siang bersama, atau sekadar berbincang santai setelah menyelesaikan pekerjaan.

Namun, ketika sebagian besar aktivitas dilakukan secara online, kesempatan untuk membangun hubungan tersebut menjadi lebih terbatas.

Akibatnya, ada Gen Z yang mungkin merasa kesulitan membangun koneksi dengan rekan kerja sejak awal kariernya.

Tiga Faktor yang Bisa Membuat Gen Z Merasa Kesepian

Berdasarkan materi yang dikutip dari Psychology Today, terdapat beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap munculnya rasa kesepian di kalangan Gen Z saat bekerja.

1. Terlalu Banyak Aktivitas Digital

Teknologi memang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, penggunaan teknologi yang berlebihan juga dapat mengubah cara orang berinteraksi.

Setiap hari, pekerja menghadapi berbagai notifikasi, pesan instan, rapat online, email, hingga target pekerjaan.

Komunikasi menjadi semakin cepat, tetapi belum tentu semakin dekat.

Seorang rekan kerja bisa mengirim puluhan pesan dalam satu hari, tetapi belum tentu pernah benar-benar berbicara secara personal. Hubungan yang terbentuk akhirnya lebih banyak bersifat fungsional.

Ketika komunikasi hanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, kesempatan untuk membangun hubungan emosional dengan rekan kerja bisa semakin sedikit.

Padahal, interaksi sederhana seperti makan siang bersama, mengobrol sebelum bekerja, atau berbagi cerita setelah jam kantor dapat menjadi bagian penting dalam membangun rasa kebersamaan.

2. Media Sosial Tidak Selalu Menghilangkan Kesepian

Gen Z merupakan generasi yang sangat dekat dengan media sosial.

Platform digital memungkinkan seseorang untuk tetap terhubung dengan banyak orang tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, memiliki banyak koneksi di media sosial tidak selalu berarti memiliki hubungan sosial yang kuat.

Media sosial juga dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Melihat teman yang terlihat sukses dalam karier, mendapatkan promosi, bekerja di perusahaan terkenal, atau memiliki kehidupan yang terlihat menyenangkan dapat menciptakan tekanan tersendiri.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Jika tidak disikapi dengan bijak, media sosial justru dapat memperkuat perasaan bahwa diri sendiri tertinggal atau tidak cukup baik.

Karena itu, koneksi digital tetap membutuhkan keseimbangan dengan interaksi nyata. Percakapan secara langsung dan hubungan yang lebih personal tetap memiliki peran penting dalam membangun rasa terhubung dengan orang lain.

3. Terbiasa Mencari Jawaban Sendiri

Kemudahan akses informasi juga mengubah kebiasaan Gen Z dalam menyelesaikan masalah.

Ketika mengalami kesulitan dalam pekerjaan, seseorang kini dapat mencari jawabannya melalui mesin pencari, forum online, video tutorial, atau bantuan teknologi AI.

Cara ini tentu memiliki banyak manfaat. Pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan seseorang bisa belajar secara mandiri.

Namun, jika terlalu sering dilakukan tanpa melibatkan rekan kerja, kesempatan untuk membangun hubungan sosial juga dapat berkurang.

Padahal, bertanya kepada rekan kerja bukan hanya tentang mendapatkan jawaban. Dari proses tersebut, seseorang bisa membangun komunikasi, mendapatkan perspektif baru, dan perlahan mengenal orang-orang di lingkungan kerjanya.

Punya Teman di Kantor Bisa Membuat Pekerjaan Lebih Menyenangkan

Hubungan pertemanan di tempat kerja ternyata memiliki kaitan dengan keterlibatan seseorang terhadap pekerjaannya.

Dalam materi yang diberikan, disebutkan bahwa sekitar 80 persen karyawan merasa lebih terlibat dalam pekerjaan ketika mereka memiliki teman di kantor.

Artinya, hubungan sosial bukan sekadar pelengkap dalam dunia kerja.

Memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara, bertukar cerita, atau sekadar makan siang bersama dapat membuat lingkungan kerja terasa lebih nyaman.

Bagi Gen Z yang baru memulai karier, memiliki teman di tempat kerja juga dapat membantu proses adaptasi.

Ketika menghadapi pekerjaan yang sulit atau merasa tertekan karena tuntutan pekerjaan, keberadaan teman dapat memberikan rasa bahwa mereka tidak menghadapi semuanya sendirian.

Remote Working vs Kerja di Kantor

Perubahan sistem kerja juga menjadi bagian penting dari fenomena ini.

Dalam materi yang diberikan, pekerja remote yang memiliki teman dekat di kantor disebut hanya mencapai sekitar 43 persen. Sementara itu, pekerja yang bekerja secara on-site atau hybrid dan memiliki teman dekat mencapai sekitar 69 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa interaksi langsung dapat memberikan peluang lebih besar untuk membangun hubungan sosial di lingkungan kerja.

Namun, bukan berarti sistem remote working selalu buruk.

Bekerja dari rumah atau lokasi lain memberikan banyak keuntungan, terutama dari sisi fleksibilitas dan efisiensi waktu. Masalahnya adalah bagaimana perusahaan tetap menciptakan ruang bagi karyawan untuk berinteraksi dan membangun hubungan.

Perusahaan yang menerapkan sistem kerja remote atau hybrid mungkin perlu lebih aktif menciptakan kesempatan bagi karyawan untuk berkomunikasi secara personal, bukan hanya membahas pekerjaan.

Sebab, fleksibilitas kerja tanpa hubungan sosial yang sehat juga bisa membuat seseorang merasa terisolasi.

Tekanan Ekonomi Ikut Memengaruhi Pekerja Muda

Kesepian bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Gen Z di dunia kerja.

Generasi muda juga harus menghadapi kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah. Ketidakstabilan pasar kerja, persaingan mendapatkan pekerjaan, dan meningkatnya biaya hidup dapat menambah tekanan psikologis.

Bagi seseorang yang baru memulai karier, kondisi tersebut tentu tidak mudah.

Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan kerja sekaligus memikirkan masa depan. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, menabung, membantu keluarga, hingga merencanakan karier jangka panjang.

Tekanan tersebut dapat semakin terasa ketika seseorang tidak memiliki lingkungan sosial yang mendukung.

Karena itu, hubungan yang sehat di tempat kerja menjadi semakin penting.

Gen Z Lebih Terbuka Membicarakan Kesehatan Mental

Meski menghadapi berbagai tantangan, ada sisi positif dari perubahan cara pandang Gen Z terhadap dunia kerja.

Generasi ini dinilai lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya.

Ketika mengalami tekanan, kecemasan, atau kesulitan dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan, semakin banyak anak muda yang bersedia mencari bantuan.

Hal ini merupakan perubahan yang cukup penting.

Masalah kesehatan mental tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Sama seperti kesehatan fisik, kondisi mental juga perlu diperhatikan.

Namun, keterbukaan tersebut tetap perlu diikuti dengan dukungan nyata dari lingkungan kerja.

Perusahaan tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka peduli terhadap kesehatan mental. Mereka juga perlu menciptakan budaya kerja yang memungkinkan karyawan merasa aman untuk berbicara, mendapatkan dukungan, dan membangun hubungan yang sehat dengan rekan kerja.

Dunia Kerja Tidak Cukup Hanya Menawarkan Gaji

Bagi generasi sebelumnya, pekerjaan mungkin lebih banyak dilihat dari sisi gaji dan stabilitas.

Namun, cara pandang tersebut mulai berubah.

Bagi banyak pekerja muda, pekerjaan juga harus memberikan pengalaman yang positif. Mereka ingin bekerja di lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang, memiliki keseimbangan hidup, dan merasa dihargai.

Gaji tetap penting.

Namun, lingkungan kerja yang toxic, tidak adanya kesempatan berkembang, dan minimnya hubungan sosial dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam jangka panjang.

Karena itu, perusahaan yang ingin mempertahankan karyawan Gen Z perlu melihat pengalaman kerja secara lebih luas.

Bukan hanya soal berapa besar gaji yang diberikan, tetapi juga bagaimana perusahaan membangun budaya kerja yang sehat.

Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Fenomena kesepian Gen Z di dunia kerja seharusnya menjadi perhatian perusahaan.

Perusahaan dapat mulai menciptakan lebih banyak kesempatan bagi karyawan untuk membangun koneksi. Misalnya melalui kegiatan bersama, mentoring, diskusi informal, atau program onboarding yang tidak hanya berfokus pada pekerjaan.

Karyawan baru juga perlu mendapatkan ruang untuk beradaptasi.

Mereka tidak bisa langsung dituntut untuk memahami semua hal dalam waktu singkat. Kehadiran mentor atau rekan kerja yang dapat menjadi tempat bertanya dapat membantu mereka merasa lebih diterima.

Untuk perusahaan dengan sistem remote atau hybrid, interaksi sosial juga tetap perlu diperhatikan.

Teknologi memang dapat menghubungkan orang dari berbagai tempat, tetapi hubungan manusia tetap membutuhkan komunikasi yang lebih personal.

Gen Z dan Masa Depan Dunia Kerja

Fenomena kesepian Gen Z menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan.

Generasi muda tidak hanya mencari pekerjaan. Mereka juga mencari lingkungan yang membuat mereka merasa memiliki tempat.

Mereka ingin berkembang, mendapatkan penghasilan, memiliki fleksibilitas, tetapi juga ingin merasa terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada akhirnya, bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan mendapatkan gaji setiap bulan.

Ada pengalaman, hubungan sosial, kesempatan belajar, dan proses membangun masa depan yang juga menjadi bagian dari perjalanan karier.

Bagi Gen Z yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, memahami kemampuan teknis saja mungkin belum cukup. Kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, beradaptasi, dan terus belajar juga menjadi bagian penting dari perjalanan profesional.

Karena itu, penting bagi anak muda untuk mulai mempersiapkan diri sejak dini.

Dunia kerja akan terus berubah. Teknologi akan semakin berkembang. Sistem kerja mungkin akan semakin fleksibel. Namun, satu hal yang tetap penting adalah kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain.

Jika kamu sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai meningkatkan kemampuan dan pengetahuanmu.

Melalui SiPegawai di sipegawai.direbahin.id, kamu bisa belajar dan mempersiapkan diri menghadapi perjalanan menuju dunia profesional dengan lebih baik. Mulai dari memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, hingga mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul di dunia kerja.

Karena mendapatkan pekerjaan adalah satu hal.

Namun, memiliki kemampuan untuk bertahan, berkembang, dan terus belajar di dalamnya adalah perjalanan yang berbeda.

Sudah siap menghadapi dunia kerja? Jangan hanya menunggu kesempatan datang. Mulai persiapkan dirimu dari sekarang.

Berita lainnya

Logo
S
SiMin
Online sekarang
👋 Halo! Selamat datang di Direbahin.id
11:13 ✓✓
Ada yang bisa SiMin bantu hari ini? 😊
11:13 ✓✓