
Minggu, 31 Mei 2026
Pukul 06.30 pagi. Alarm sudah berbunyi berkali-kali. Seorang mahasiswi buru-buru bersiap ke kampus. Di depan cermin, ia sibuk merapikan eyeliner dan memastikan outfit hari itu terlihat sempurna. Di meja hanya ada segelas minuman instan yang belum sempat dihabiskan. Sarapan? Nanti saja saat jam istirahat.
Bagi sebagian orang, situasi seperti ini mungkin terdengar familiar.
Di era media sosial yang serba visual, banyak anak muda, khususnya perempuan Gen Z, mulai menempatkan penampilan sebagai prioritas utama sebelum memulai aktivitas. Tidak sedikit yang rela mengurangi waktu sarapan demi memastikan wajah terlihat segar, outfit sesuai tren, dan foto yang diunggah ke media sosial terlihat menarik.
Lalu muncul pertanyaan menarik: apakah Gen Z benar-benar lebih memilih tampil cantik daripada memenuhi kebutuhan tubuh di pagi hari?
Media sosial telah mengubah cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Dulu, orang mengenal kita melalui percakapan atau interaksi langsung. Sekarang, kesan pertama sering kali datang dari foto profil, unggahan Instagram, video TikTok, atau story yang dibagikan setiap hari.
Akibatnya, penampilan menjadi bagian penting dari identitas digital.
Tidak mengherankan jika banyak Gen Z menghabiskan waktu lebih banyak untuk memilih outfit, merapikan rambut, atau menggunakan makeup dibanding menyiapkan sarapan.
Bukan semata-mata karena ingin dipuji, tetapi karena penampilan dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri saat beraktivitas.
Bagi sebagian orang, tampil rapi membuat mereka merasa lebih siap menghadapi hari.
Tidak bisa dipungkiri, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara Gen Z memandang dirinya sendiri.
Setiap hari mereka melihat:
Paparan tersebut secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa tampil menarik adalah sebuah kebutuhan.
Algoritma media sosial juga sering menampilkan konten visual yang dianggap menarik. Semakin sering seseorang melihat standar kecantikan tertentu, semakin besar kemungkinan standar tersebut dianggap sebagai hal yang normal.
Akibatnya, sebagian anak muda merasa harus selalu tampil maksimal setiap kali keluar rumah.
Meski sarapan dikenal sebagai sumber energi penting untuk memulai hari, faktanya masih banyak anak muda yang melewatkannya.
Alasannya beragam.
Pertama, keterbatasan waktu. Banyak mahasiswa dan pekerja muda memiliki jadwal yang padat sehingga memilih mengorbankan waktu makan pagi.
Kedua, tidak terbiasa sarapan. Sebagian orang mengaku tidak merasa lapar ketika baru bangun tidur.
Ketiga, lebih fokus pada persiapan penampilan. Proses memilih pakaian, menata rambut, hingga menggunakan makeup sering kali memakan waktu cukup lama.
Ketika waktu semakin sempit, sarapan menjadi aktivitas pertama yang dikorbankan.
Masalahnya, tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalani aktivitas.
Sarapan membantu menyediakan glukosa yang dibutuhkan otak untuk berpikir, berkonsentrasi, dan bekerja secara optimal.
Ketika sarapan dilewatkan, beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
Bagi mahasiswa atau pekerja yang memiliki aktivitas padat, kondisi ini tentu bisa memengaruhi performa sepanjang hari.
Karena itu, meskipun penampilan penting, kebutuhan tubuh tetap tidak boleh diabaikan.
Menariknya, pembahasan ini sering disalahartikan seolah-olah seseorang harus memilih antara makeup atau sarapan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Banyak perempuan menggunakan makeup bukan karena tekanan sosial semata, melainkan sebagai bentuk self-care atau cara mengekspresikan diri.
Makeup bisa membantu seseorang merasa lebih percaya diri, lebih nyaman, dan lebih siap menghadapi aktivitas.
Masalah muncul ketika penampilan dianggap lebih penting daripada kesehatan.
Jika seseorang rutin melewatkan sarapan hanya demi memiliki waktu lebih lama untuk berdandan, maka kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
Psikolog sering mengaitkan fenomena ini dengan konsep body image.
Body image adalah cara seseorang memandang dan menilai tubuh atau penampilannya sendiri.
Di era digital, body image semakin dipengaruhi oleh komentar, likes, views, dan berbagai bentuk validasi online lainnya.
Tidak sedikit anak muda yang merasa harus memenuhi standar tertentu agar diterima lingkungan sosial.
Padahal standar kecantikan terus berubah dan sering kali tidak realistis.
Karena itu, penting bagi Gen Z untuk memahami bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik.
Tampil rapi dan menarik bukanlah sesuatu yang salah.
Begitu juga dengan menggunakan makeup atau mengikuti tren fashion.
Namun, kesehatan tetap harus menjadi prioritas utama.
Tidak ada salahnya meluangkan waktu beberapa menit untuk sarapan sederhana sebelum beraktivitas.
Pilihan seperti:
Sudah cukup membantu tubuh mendapatkan energi di pagi hari.
Dengan perencanaan waktu yang baik, sebenarnya tidak perlu memilih antara tampil menarik atau sarapan.
Keduanya bisa berjalan beriringan.
Fenomena "cantik dulu, kenyang nanti" menunjukkan bagaimana media sosial dan budaya visual memengaruhi prioritas sebagian Gen Z, khususnya perempuan muda.
Penampilan memang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan menjadi bagian dari identitas diri. Namun, kebutuhan dasar seperti sarapan tetap memiliki peran penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas.
Pada akhirnya, bukan soal memilih antara makeup atau sarapan. Yang terpenting adalah menemukan keseimbangan antara merawat penampilan dan merawat tubuh.
Karena tampil menarik memang menyenangkan, tetapi tubuh yang sehat tetap menjadi fondasi utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Minggu, 31 Mei 2026 | 6 Views
Sabtu, 16 Mei 2026 | 1229 Views
Sabtu, 09 Mei 2026 | 4741 Views
Minggu, 03 Mei 2026 | 4157 Views
Sabtu, 25 April 2026 | 350 Views