Jangan Terlalu Sibuk Jadi Versi Terbaik sampai Lupa Menghargai Diri Sendiri
Ada banyak cara untuk menjadi lebih baik. Membaca buku, belajar keterampilan baru, berolahraga, membangun kebiasaan positif, sampai mengikuti berbagai konten tentang produktivitas.
Semua itu tentu bisa membawa perubahan yang baik.
Masalahnya muncul ketika keinginan untuk berkembang perlahan berubah menjadi perasaan bahwa diri kita yang sekarang belum cukup baik.
Hari ini harus lebih produktif dari kemarin. Besok harus lebih sukses. Harus lebih pintar, lebih percaya diri, lebih sehat, lebih disiplin, dan masih banyak standar lainnya.
Tanpa sadar, proses self-improvement yang seharusnya membantu kita berkembang justru bisa membuat kita terus merasa kurang.
Kita sibuk mengejar versi terbaik dari diri sendiri sampai lupa bahwa versi yang sedang menjalani proses hari ini juga layak dihargai.
Ketika Self-Improvement Berubah Menjadi Tekanan
Istilah self-improvement semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada konten tentang morning routine, produktivitas, membaca buku setiap hari, olahraga, mengatur keuangan, sampai berbagai metode untuk membangun kebiasaan baru.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berkembang.
Namun, perkembangan diri bisa terasa melelahkan ketika semuanya berubah menjadi standar yang harus dipenuhi.
Ketika satu target berhasil dicapai, muncul target baru. Ketika satu kebiasaan sudah terbentuk, ada standar lain yang dianggap harus diperbaiki.
Akhirnya, kita tidak lagi bertanya, “Sejauh apa saya sudah berkembang?”
Sebaliknya, yang muncul justru pertanyaan, “Kenapa saya belum seperti mereka?”
Di titik inilah pengembangan diri bisa berubah dari sesuatu yang membantu menjadi sumber tekanan.
Media Sosial Membuat Perbandingan Terasa Semakin Dekat
Salah satu hal yang membuat kondisi ini semakin kuat adalah media sosial.
Setiap hari kita dapat melihat orang lain mendapatkan pekerjaan impian, lulus kuliah, membangun bisnis, bepergian, berolahraga, memiliki hubungan yang terlihat bahagia, atau mencapai target tertentu.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat di layar.
Kita tidak melihat seluruh proses di balik pencapaian tersebut.
Tidak terlihat berapa kali mereka gagal. Tidak terlihat hari ketika mereka kehilangan motivasi. Tidak terlihat keputusan sulit yang harus mereka ambil atau masalah yang sedang mereka hadapi.
Sementara itu, kita justru melihat kehidupan sendiri secara lengkap.
Kita tahu semua kesalahan, kegagalan, rasa takut, kebingungan, dan hari-hari ketika tidak mampu melakukan apa-apa.
Tidak heran jika perbandingan seperti ini membuat diri sendiri terasa tertinggal.
Padahal, bisa jadi kita sebenarnya sudah berkembang cukup jauh.
Jangan Sampai Semua Pencapaian Terasa Tidak Pernah Cukup
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika terlalu fokus mengejar target: mengakui pencapaian yang sudah berhasil dilewati.
Mungkin kita belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tetapi sudah berani keluar dari zona nyaman.
Mungkin bisnis belum berkembang seperti yang diharapkan, tetapi kita sudah belajar mengelola sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pahami.
Mungkin belum mencapai target finansial, tetapi sudah mulai belajar mengatur pengeluaran.
Hal-hal seperti ini terlihat kecil jika dibandingkan dengan tujuan akhir.
Namun, justru dari perubahan kecil tersebut proses pertumbuhan terjadi.
Tidak semua perkembangan harus terlihat besar agar memiliki arti.
Tumbuh karena Menghargai Diri vs Tumbuh karena Merasa Kurang
Ada perbedaan antara ingin berkembang karena menghargai diri sendiri dan ingin berubah karena merasa diri sendiri tidak cukup baik.
Ketika tumbuh karena menghargai diri, kita dapat melihat kesalahan sebagai bagian dari proses.
Gagal bukan berarti seluruh usaha sia-sia. Hari yang tidak produktif bukan berarti kita menjadi orang yang gagal. Rencana yang tidak berjalan sesuai harapan juga tidak otomatis menghapus semua kemajuan yang sudah dilakukan.
Sebaliknya, ketika berkembang karena terus merasa kurang, setiap kesalahan dapat terasa seperti bukti bahwa diri sendiri tidak cukup baik.
Standar pun terus bergeser.
Setelah mencapai satu target, muncul target berikutnya. Setelah menjadi lebih baik dalam satu hal, kita merasa harus memperbaiki hal lainnya.
Akibatnya, ada perasaan seperti tidak pernah benar-benar sampai.
Padahal, kehidupan bukan sebuah daftar tugas yang harus semuanya dicentang agar kita pantas menghargai diri sendiri.
Pandangan Carl Rogers tentang Penerimaan Diri
Dalam pendekatan Person-Centered, psikolog Carl Rogers menekankan pentingnya penerimaan diri dalam proses pertumbuhan.
Gagasan ini mengingatkan bahwa seseorang tidak harus terus-menerus melihat dirinya sebagai sesuatu yang rusak dan harus diperbaiki agar layak dihargai.
Penerimaan diri bukan berarti berhenti berkembang.
Justru, seseorang dapat menerima dirinya saat ini sekaligus tetap memiliki keinginan untuk tumbuh.
Keduanya bisa berjalan bersamaan.
Kita bisa mengatakan, “Saya masih punya banyak hal yang perlu dipelajari,” tanpa harus menyimpulkan, “Berarti saya tidak cukup baik.”
Brené Brown dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Brené Brown juga banyak membahas tentang keberanian, kerentanan, dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Dalam konteks pengembangan diri, gagasannya dapat dilihat sebagai pengingat bahwa keinginan untuk menjadi lebih baik tidak seharusnya membuat seseorang merasa harus menjadi orang lain terlebih dahulu agar pantas dihargai.
Ada perbedaan antara ingin berkembang dan berusaha menghapus diri sendiri yang sekarang.
Kita bisa memperbaiki kebiasaan tanpa membenci diri sendiri.
Kita bisa mengejar kesuksesan tanpa menganggap kehidupan sekarang tidak berarti.
Kita bisa memiliki target baru tanpa menganggap semua pencapaian sebelumnya tidak ada artinya.
Kamu Tidak Harus Menunggu Jadi “Versi Terbaik”
Bayangkan diri kita beberapa tahun yang lalu.
Mungkin saat itu ada masalah yang terasa sangat berat. Ada keputusan yang membingungkan. Ada kegagalan yang membuat kecewa.
Tetapi kita berhasil melewatinya.
Versi diri kita yang sekarang mungkin belum menjadi sosok yang selama ini dibayangkan. Masih ada kekurangan, masih ada target yang belum tercapai, dan masih ada banyak hal yang ingin diperbaiki.
Namun, ada satu hal yang sering luput kita sadari:
Diri kita yang sekarang sudah melewati banyak hal yang dulu terasa mustahil untuk dilewati.
Itu juga sebuah pencapaian.
Menjadi Lebih Baik Tidak Harus Membenci Diri yang Sekarang
Keinginan untuk menjadi versi terbaik bukan sesuatu yang harus ditinggalkan.
Kita tetap boleh memiliki target. Tetap boleh belajar, bekerja lebih keras, membangun kebiasaan baru, dan mengejar kehidupan yang diinginkan.
Tetapi dalam proses tersebut, jangan sampai kita memperlakukan diri sendiri seolah-olah baru pantas dihargai setelah semua target tercapai.
Karena kemungkinan besar, target itu tidak akan pernah benar-benar habis.
Akan selalu ada sesuatu yang ingin diperbaiki.
Maka, mungkin yang perlu diubah bukan hanya “versi diri” yang ingin kita capai, tetapi juga cara kita memandang diri sendiri selama perjalanan.
Tidak apa-apa masih belajar.
Tidak apa-apa belum tahu semuanya.
Tidak apa-apa sesekali gagal.
Dan tidak apa-apa jika hari ini belum menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Bertumbuh bukan berarti meninggalkan diri yang sekarang. Bertumbuh berarti membawa diri yang sekarang menuju tempat yang lebih baik, sambil tetap menghargai setiap langkah yang sudah berhasil dilewati.
Redaksi Direbahin.id
Menyajikan konten-konten lifestyle terhangat, tips gaya hidup digital, info barbershop, dan rekomendasi produk terkini.